Thursday, March 10, 2011

NURSING INTERFERENCE WITH CUSTOMER PERCEPTION Sensory hallucinations

A. DEFINISI DEFINITIONS

Sensasi atau penginderaan adalah pengetahuan atau kesadaran akan suatu rangsang. Sensation or sensing is the knowledge or awareness of a stimulus. Terdapat 6 macam sensasi yaitu : rasa kecap, rasa raba, rasa cium, penglihatan, pendengaran dan kesehatan. There are 6 kinds of sensation is: ketchup taste, sense of touch, sense of smell, sight, hearing and health. Untuk setiap sensasi harus ada rangsang yang dapat diartikan sebagai setiap perubahan energi luar yang dapat menimbulkan suatu jawaban. For every sensation must exist stimuli which can be interpreted as any change in external energy that can lead to an answer.
Persepsi atau pencerapan adalah kesadaran akan suatu rangsang yang dimengerti. Perception is the awareness or perception of a stimulus that is understandable. Jadi persepsi adalah sensasi ditambah dengan pengertian, yang di dapat dari proses interaksi dan asosiasi macam-macam rangsang yang masuk atau dengan perkataan lain dapat disebutkan sebagai pengalaman tentang benda-benda dan kejadian-kejadian yang ada pada saat itu. So the perception is sensation coupled with understanding, which are obtained from the process of interaction and association of various incoming stimuli or in other words can be described as an experience about objects and events that exist at the time.
Jadi gangguan persepsi sensori merupakan ketidakmampuan individu dalam mengidentifikasi dan menginterpretasi stimulus sesuai dengan informasi yang diterima melalui panca indera. So sensory perception disorder is the inability of individuals in identifying and interpreting the stimulus in accordance with information received through the five senses.
Halusinasi adalah suatu persepsi yang salah tanpa dijumpai adanya rangsang dari luar. Hallucinations are a common perception is wrong without any stimuli from outside. Walaupun tampak sebagai suatu yang “khayal”, halusinasi sebenarnya merupakan bagian dari kehidupan mental penderita yang “terepsesi”. Although it appears as a an "imaginary", hallucinations actually part of the mental life of patients who "terepsesi". Halusinasi dapat terjadi karena dasar-dasar organik fungsional, psikotik maupun histerik. Hallucinations can occur because the basics of organic functional, psychotic or hysterical.


B. B. KLASIFIKASI HALUSINASI CLASSIFICATION Hallucinations
Jenis-jenis halusinasi terdiri dari : The types of hallucinations consist of:
1. 1. Halusinasi pendengaran ( auditif, akustik) : Auditory hallucinations (auditif, acoustic):
Paling sering dijumpai dapat berupa bunyi mendenging atau suara bising yang tidak mempunyai arti, tetapi lebih sering terdengar sebagai sebuah kata atau kalimat yang bermakna. Most often found to be a sound or buzzing noise that has no meaning, but more often heard as a meaningful word or sentence. Biasanya suara tersebut ditujukan pada penderita sehingga tidak jarangpenderita bertengakar dan berdebat dengan suara-suara tersebut. Usually the sound is directed at patients so that did not jarangpenderita bertengakar and argue with these voices.
Suara tersebut dapat dirasakan berasal dari jauh atau dekat, bahkan mungkin datang dari tiap bagian tubuhnya sendiri. Sound can be felt coming from far or near, perhaps even coming from every part of her own. Suara bisa menyenangkan, menyuruh berbuat baik, tetapi dapat pula berupa ancaman, mengejek, memaki atau bahkan yang menakutkan dan kadang-kadang mendesak/memerintah untuk berbuat sesuatu seperti membunuh dan merusak. Voice can be fun, do good order, but can also be threats, taunting, cursing or even a frightening and sometimes urgent / command to do something like kill and destroy.
2. 2. Halusinasi penglihatan (visual, optik) : Visual hallucinations (visual, optical):
Lebih sering terjadi pada keadaan delirium (penyakit organik). More common in the state of delirium (organic disease). Biasanya sering muncul bersamaan dengan penurunan kesadaran, menimbulkan rasa takut akibat gambaran-gambaran yang mengerikan. Usually frequently occur together with decreased consciousness, creates fear due to the horrific images.
3. 3. Halusinasi penciuman (olfaktorik) : Hallucinations of smell (olfaktorik):
Halusinasi ini biasanya berupa mencium sesuatu bau tertentu dan dirasakan tidak enak, melambangkan rasa bersalah pada penderita. Hallucinations are usually a certain odor smell something and felt uncomfortable, symbolizes a sense of guilt on the sufferer. Bau dilambangkan sebagai pengalaman yang dianggap penderita sebagai suatu kombinasi moral. The smell is symbolized as an experience which is considered as a combination of moral patients.
4. 4. Halusinasi pengecapan (gustatorik) : Taste hallucinations (gustatorik):
Walaupun jarang terjadi, biasanya bersamaan dengan halusinasi penciuman, penderita merasa mengecap sesuatu. Although rare, usually in conjunction with olfactory hallucinations, the patient was tasting something. Halusinasi gastorik lebih jarang dari halusinasi gustatorik. Hallucinations gastorik less frequently than hallucinations gustatorik.
5. 5. Halusinasi raba (taktil) : Hallucinations touch (tactile):
Merasa diraba, disentuh, ditiup atau seperti ada ulat, yang bergerak di bawah kulit. Feeling touched, touched, blown or like there are caterpillars, which move under the skin. Terutama pada keadaan delirium toksis dan skizofrenia Especially in the state of toxic delirium and schizophrenia
6. 6. Halusinasi seksual, ini termasuk halusinasi raba : Sexual hallucinations, including hallucinations touch:
Penderita merasa diraba dan diperkosa, sering pada skizofrenia dengan waham kebesaran terutama mengenai organ-organ. Patients feel touched and raped, often in schizophrenia with delusions of grandeur, especially the organs.
7. 7. Halusinasi kinestetik : Kinesthetic hallucination:
Penderita merasa badannya bergerak gerak dalam suatu ruang atau anggota badannya yang bergerak-gerak, misalnya “phantom phenomenon” atau tungkai yang diamputasi selalu bergerak-gerak (phantom limb). The patient felt his body move the motion in a space or limbs that move, such as "phantom phenomenon" or leg amputated is always moving (phantom limb). Sering pada skizofrenia dalam keadaan toksik tertentu akibat pemakaian obat tertentu. Frequently in schizophrenia in particular toxic state resulting from the use of certain drugs.
8. 8. Halusinasi viseral : Hallucinations visceral:
Timbulnya perasaan tertentu di dalam tubuhnya. The emergence of a certain feeling in his body.

No comments:

Post a Comment